Stablecoin Booming Selama Virus Covid-19

Saat pasar saham dan crypto seperti Bitcoin mengalami penurunan paada beberapa pekan terakhir karena pandemi virus corona ataupun kondisi global yang tidak stabil. Pasar stablecoin justru mengalami lonjakan senilai $1,5 miliar pada bulan lalu dan sekarang bernilai lebih dari $7 miliar, menurut data oleh Coin Metrics.

Dalam sebuah utas tentang kenaikan stablecoin baru-baru ini, salah satu pendiri Coin Metrics, Nic Carter mengatakan hal itu bisa terkait dengan kekhawatiran tentang  pencetakan uang fiat yang dilakukan AS untuk bisa menyuntikkan  dana ke pasar agar bisa membendung dampak dari perlambatan ekonomi global.

Dengan pasar saham AS dan penjualan pasar crypto dalam beberapa minggu terakhir, di mana investor pindah ke aset yang kurang berisiko seperti uang tunai, mungkin beberapa investor melarikan diri ke stablecoin yang dipatok USD karena mereka adalah hal terdekat dengan uang tunai selama krisis likuiditas.

Menurut Carter, itu bukan satu-satunya alasan yang mungkin. “Ada penciptaan stablecoin yang terjadi, bukan hanya aset risiko crypto mengalir kembali ke stablecoin,  ada beberapa demografis di luar sana yang mengubah dolar digital menjadi fiat tokenized,”  cuitnya melalui Twitter.

Carter lebih lanjut menunjuk pada pertumbuhan stablecoin
pada Ethereum, karena nilainya yang beredar di Ethereum semakin mendekati nilai
Ether, cryptocurrency yang memicu blockchain.

Ketika ditanya tentang efek yang mungkin terjadi dari pertumbuhan stablecoin pada Ethereum,  dilansir dari Decrypt Carter memberikan informasi bahwa mungkin berarti bahwa jika pengguna di blockchain mulai menggunakan stablecoin dalam mata uang USD untuk menyelesaikan transaksi dan membayar biaya, itu akan mengurangi permintaan Ether.

Menurut Carter ini juga bisa berdampak negatif pada keseluruhan sistem karena mengurangi pendapatan penambang.

Baca juga:WHO Nyatakan Covid-19 sebagai Pandemi, Crypto dan Saham pun Anjlok

Efek Booming Stablecoin Lebih Terasa pada Eter Daripada Bitcoin

“Perbedaannya adalah bitcoin tidak memiliki keberadaan
stablecoin yang bermakna, tether sebelumnya sangat besar pada bitcoin tetapi
sebagian besar telah bermigrasi ke ETH, ” ,” ujar Carter lagi.

Namun, efek terbesar dari krisis ekonomi  dan booming stablecoin terkait kemungkinan
terjadi karena percepatan  dalam
penyebaran mata uang digital bank sentral (CBDCs).

 “Suatu periode
pemberian langsung pemerintah langsung kepada individu tentu dapat menambah
urgensi menciptakan CBDC, “

Namun sayangnya CBDC saat ini tidak dapat membantu lebih jauh untuk mengatasi pandemi dan krisis global karena masih banyak negara yang sedang dalam tahap pembelajaran dan pengembangan untuk memiliki mata uang digital bank sentralnya.

“Saya tidak yakin CBDC yang berhadapan dengan ritel dapat diputar balik dengan cukup cepat untuk dapat diterapkan,” pungkas Carter

Sumber

The post Stablecoin Booming Selama Virus Covid-19 appeared first on Coinvestasi.